Thailand Hadapi Perlambatan Ekonomi di Mei 2025: Pariwisata dan Produksi Jadi Sorotan

Thailand Hadapi Perlambatan Ekonomi di Mei 2025: Pariwisata dan Produksi Jadi Sorotan – Thailand, salah satu negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menghadapi tantangan serius pada Mei 2025. Data terbaru dari Bank of Thailand menunjukkan bahwa perlambatan sektor pariwisata dan penurunan produksi manufaktur menjadi penyebab utama lesunya pertumbuhan ekonomi bulan tersebut. Meskipun ekspor menunjukkan peningkatan signifikan, dampak negatif dari sektor lain membuat performa ekonomi Thailand tidak sekuat yang diharapkan.

Penurunan Kinerja Pariwisata: Wisatawan Jarak Jauh Menyusut

Sektor pariwisata, yang selama ini menjadi motor utama ekonomi Thailand, mengalami penurunan pendapatan dan jumlah wisatawan asing. Terutama wisatawan jarak jauh dari Eropa dan Amerika mengalami penurunan signifikan. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain:

  • Kekhawatiran soal keamanan di tengah meningkatnya laporan insiden terhadap turis asing
  • Harga tiket pesawat dan akomodasi yang tinggi
  • Persaingan dari negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia
  • Persepsi negatif akibat informasi keliru yang beredar di media sosial

Pemerintah Thailand telah menggelar pertemuan dengan pelaku industri pariwisata untuk mencari solusi cepat, termasuk pemotongan pajak bahan bakar penerbangan dan penambahan penerbangan carter.

Produksi Manufaktur Turun: Kilang Minyak dan Inventaris Jadi Pemicu

Selain pariwisata, sektor manufaktur juga mengalami penurunan output. Penurunan ini disebabkan oleh:

  • Penutupan sementara kilang minyak untuk pemeliharaan
  • Pengisian ulang inventaris yang telah dilakukan sebelumnya
  • Kondisi pasar domestik yang belum pulih sepenuhnya

Penurunan produksi ini berdampak langsung pada investasi swasta, yang tercatat turun sebesar 0,6% dibandingkan bulan sebelumnya.

Ekspor Meningkat: Elektronik Jadi Penyelamat

Di tengah tekanan dari sektor lain, ekspor Thailand justru menunjukkan performa positif. Lonjakan ekspor dipimpin oleh:

  • Produk elektronik dan semikonduktor
  • Permintaan global yang meningkat
  • Percepatan pengiriman selama masa tenggang tarif

Ekspor menjadi satu-satunya sektor yang memberikan dorongan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Thailand di bulan Mei.

Konsumsi Domestik: Barang Tahan Lama Mendominasi

Meski investasi swasta menurun, konsumsi domestik justru naik 0,2%, terutama pada barang-barang tahan lama seperti:

  • Peralatan rumah tangga
  • Kendaraan pribadi
  • Elektronik konsumen

Kenaikan ini menunjukkan bahwa kelas menengah Thailand masih memiliki daya beli, meski terbatas pada segmen tertentu.

Defisit Transaksi Berjalan: USD 0,3 Miliar

Thailand mencatatkan defisit transaksi berjalan sebesar USD 0,3 miliar pada Mei 2025. Hal ini menunjukkan bahwa arus keluar devisa lebih besar daripada arus masuk, yang bisa berdampak pada nilai tukar dan cadangan devisa negara.

Strategi Pemerintah: Fokus pada Wisatawan Berkualitas

Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) kini mengalihkan fokus dari kuantitas ke kualitas wisatawan. Strategi ini mencakup:

  • Promosi ke pasar Eropa, AS, dan Timur Tengah
  • Pengembangan ekowisata dan wisata budaya
  • Peningkatan pengalaman wisata yang lebih bermakna

Namun, para ahli menilai bahwa strategi ini masih menghadapi tantangan besar, terutama karena penurunan wisatawan China, yang sebelumnya slot bonus 100 menjadi penyumbang terbesar.

Tantangan dari Pasar China: Persepsi dan Keamanan

Jumlah wisatawan China ke Thailand turun drastis, dari 11 juta pada 2019 menjadi kurang dari 2 juta pada lima bulan pertama 2025. Penyebabnya antara lain:

  • Insiden keamanan seperti penembakan dan penculikan
  • Film dan media China yang menggambarkan Thailand sebagai destinasi berisiko
  • Ketegangan geopolitik dan konflik regional

Pemerintah Thailand telah meluncurkan kampanye seperti “Sawadee Nihao” dan bekerja sama dengan Baidu untuk memperbaiki citra negara di mata wisatawan China.

Proyeksi Ekonomi Thailand ke Depan

Dengan kondisi saat ini, Thailand diperkirakan:

  • Gagal mencapai target 39 juta wisatawan mancanegara pada 2025
  • Mengalami perlambatan pertumbuhan PDB kuartal II
  • Menghadapi tekanan dari defisit transaksi berjalan dan penurunan investasi

Namun, jika strategi pemulihan pariwisata dan peningkatan ekspor berhasil, Thailand masih memiliki peluang untuk menstabilkan ekonomi di paruh kedua tahun ini.

Penutup: Momentum untuk Reorientasi Ekonomi

Lesunya ekonomi Thailand di Mei 2025 menjadi peringatan penting bagi pemerintah dan pelaku industri. Ketergantungan pada pariwisata dan manufaktur harus diimbangi dengan diversifikasi sektor dan peningkatan daya saing ekspor slot gacor spaceman. Dengan strategi yang tepat dan eksekusi yang cepat, Thailand masih bisa bangkit dan menjaga posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi di Asia Tenggara.