Pura Lingsar Lombok Simbol Kerukunan Islam-Hindu – Pura Lingsar Lombok Simbol Kerukunan Islam-Hindu di Tengah Alam Tropis
Di antara hamparan sawah hijau dan kaki Gunung Rinjani yang megah, terdapat sebuah tempat suci yang menjadi simbol harmoni umat beragama di Indonesia: Pura Lingsar. Terletak di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, tempat ini bukan hanya destinasi wisata religi, melainkan juga perwujudan nyata dari toleransi yang telah hidup ratusan tahun lamanya.
Baca juga : Tempat untuk Jalan – Jalan Keluarga di Kroasia
Pura Lingsar bukan pura biasa. Ia adalah satu-satunya pura di Indonesia—bahkan di dunia—yang digunakan bersama oleh umat Hindu Bali dan penganut Islam Wetu Telu, sebuah kepercayaan lokal yang berkembang di kalangan masyarakat Sasak, suku asli Lombok. Di tengah keragaman keyakinan dan latar belakang budaya, Pura Lingsar berdiri sebagai jembatan spiritual yang menyatukan, bukan memisahkan.
Sejarah dan Arsitektur: Perpaduan Dua Dunia
Pura Lingsar dibangun pada tahun 1714 oleh Anak Agung Ngurah, seorang raja dari Kerajaan Karangasem Bali yang kala itu menguasai sebagian wilayah Lombok. Namun, tidak seperti pura lain yang eksklusif digunakan umat Hindu, Pura Lingsar sejak awal didesain untuk menjadi tempat ibadah bersama antara Hindu dan Islam Wetu Telu.
Kompleks pura ini terbagi menjadi dua area utama:
- Pura Gaduh, yang merupakan tempat suci bagi umat Hindu, khususnya penganut Hindu Dharma dari Bali. Di sinilah berbagai upacara keagamaan Hindu dilaksanakan, termasuk perayaan Hari Raya Galungan, Kuningan, dan Odalan.
- Kemaliq, bagian yang disakralkan oleh umat Islam Wetu Telu. Meskipun tidak mengikuti lima waktu salat seperti Islam pada umumnya, penganut Wetu Telu tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, seperti puasa Ramadan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Di Kemaliq, mereka menjalankan ritual adat dan kepercayaan leluhur secara turun-temurun.
Yang menarik, kedua area ini tidak dipisahkan oleh tembok tinggi atau pagar tertutup. Sebaliknya, mereka berdampingan secara damai, mencerminkan semangat toleransi yang mendalam.
Upacara Perang Topat: Simbol Toleransi yang Penuh Kegembiraan
Setiap tahun, sekitar bulan November atau Desember, Pura Lingsar menjadi pusat perhatian dengan digelarnya Perang Topat—ritual budaya yang mencerminkan persatuan umat Hindu dan Muslim Sasak. Dalam upacara ini, ratusan orang dari kedua komunitas saling melempar ketupat (topat) sebagai simbol syukur atas hasil panen dan doa untuk kesuburan di tahun mendatang.
Meski disebut “perang”, tidak ada kemarahan atau kekerasan. Sebaliknya, tawa dan sorak sorai menggema di seluruh area pura. Ketupat yang dilempar pun tidak menjadi sampah; mereka dikumpulkan dan ditanam di sawah sebagai bentuk simbolis pemupukan dan harapan akan panen yang melimpah.
Perang Topat adalah ekspresi budaya yang memperkuat pesan: perbedaan tidak harus membawa perpecahan, justru bisa menjadi kekuatan jika dijalani dengan rasa hormat dan kebersamaan.
Destinasi Wisata Religi dan Budaya
Saat ini, Pura Lingsar tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata spiritual yang menarik wisatawan lokal dan mancanegara. Keunikan arsitekturnya yang menggabungkan unsur Bali dan Sasak, suasana alam yang sejuk, serta nilai-nilai toleransi yang dijunjung tinggi menjadikannya tempat yang sarat makna.
Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi pemandangan indah, tetapi juga pelajaran penting tentang bagaimana dua agama besar bisa hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dan bekerja sama dalam merawat warisan budaya bersama.
Pelajaran dari Lingsar: Toleransi Itu Nyata
Di tengah dunia yang kerap diwarnai slot depo 10k konflik akibat perbedaan keyakinan, Pura Lingsar menjadi bukti hidup bahwa kerukunan bukan utopia—ia nyata dan bisa dijalani, jika ada niat baik, saling menghormati, dan kesediaan untuk memahami.
Lingsar mengajarkan bahwa agama seharusnya bukan menjadi sekat, tapi jembatan. Bahwa warisan leluhur yang kaya bukan untuk dipertentangkan, tapi dirayakan bersama. Dan bahwa dalam harmoni, kita justru bisa menemukan kekuatan yang lebih besar sebagai manusia.
Kesimpulan: Sebuah Warisan, Sebuah Harapan
Pura Lingsar bukan hanya tempat suci; ia adalah simbol. Simbol bahwa Indonesia, dengan segala keberagamannya, mampu menjaga nilai-nilai persatuan yang luhur. Bahwa di tanah Lombok yang damai, toleransi bukan sekadar slogan, tapi napas kehidupan sehari-hari.
Maka, saat kamu berkunjung ke Lombok, sempatkanlah datang ke Pura Lingsar. Bukan hanya untuk melihat bangunannya, tapi untuk merasakan langsung semangat kerukunan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Karena di sanalah, kamu akan menemukan arti toleransi yang sesungguhnya.
